“Kisah Perjuangan Ibrahim – Alumni Pondok Pesantren Al Kautsar Angkatan 15”

Sejak masih menjadi santri di Pondok Pesantren Al Kautsar, Ibrahim telah menanamkan satu cita-cita dalam hatinya: menjadi prajurit TNI AL. Semangatnya membara setiap kali melihat pasukan berseragam putih gagah berdiri di atas geladak kapal. Ia ingin mengabdi untuk negeri, menjaga lautan Indonesia, dan membawa nama baik pesantren tempat ia tumbuh.
Setelah lulus, Ibrahim tak menunggu waktu lama. Ia mulai menyiapkan diri — latihan fisik, bimbingan belajar, dan segala berkas yang diperlukan untuk mengikuti seleksi. Tahun demi tahun ia mencoba. Dari Akmil, Bintara, hingga Tamtama, semua jalur ia tempuh. Namun, sembilan kali berturut-turut ia harus menelan kenyataan pahit: gagal.
Bagi sebagian orang, mungkin sembilan kali kegagalan cukup untuk menyerah. Tapi tidak bagi Ibrahim.
Baginya, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menjemput takdir.
Suatu hari, Ibrahim datang kembali ke Pondok. Ia datang dengan langkah mantap, membawa map berisi berkas-berkas yang perlu dilegalisir untuk keperluan tes calon Bintara TNI AD. Saya menyapanya, menanyakan maksud kedatangannya. Dengan senyum tenang ia menjawab,
“Ustadz, saya mau legalisir ijazah. Bismillah, mau coba tes lagi.”
Saya menatapnya, takjub pada tekad dan mental baja yang terpancar dari wajahnya.
Sembilan kali gagal, tapi tak sekalipun saya melihat gurat putus asa.
Di sela percakapan, ia berkata dengan nada lirih namun penuh harap,
“Ustadz, minta doanya. Mungkin saya ini banyak dosa dan kesalahan sama para asatidz, makanya belum lulus-lulus. Tapi ini kesempatan terakhir saya, usia sudah hampir batas maksimal. Mohon doanya semoga yang kesepuluh ini jadi yang terakhir — dan lulus.”
Ada satu cerita lucu yang membuat saya tersenyum haru.
Karena begitu sering ikut seleksi, panitia sampai hafal wajahnya. Setiap kali tes dimulai, mereka berseloroh,
“Wah, Ibrahim lagi, Ibrahim lagi!”
Namun di balik candaan itu, tersimpan penghormatan — karena hanya orang yang benar-benar tangguh yang berani mencoba lagi setelah gagal berkali-kali.
Hari-hari pun berlalu. Saya menunggu kabar darinya, namun tak kunjung datang. Dalam hati saya berbisik, mungkin takdir belum berpihak lagi kali ini.
Sampai akhirnya, kemarin sebuah pesan masuk ke ponsel saya:
“Assalamu’alaikum Ustadz, Ibrahim lulus.”
Saya tertegun. Rasa haru dan bangga bercampur menjadi satu.
Allah menjawab doa yang tak pernah berhenti ia panjatkan selama bertahun-tahun.
Perjalanan panjang itu berakhir dengan manis. Ibrahim kini resmi menjadi anggota TNI, bukan hanya karena kuatnya fisik, tapi karena iman, tekad, dan doa yang tak pernah padam.
Dari kisah Ibrahim, kita belajar bahwa kegigihan adalah bentuk lain dari doa yang berjalan.
Bahwa keyakinan dan mental baja adalah pembeda antara mereka yang menyerah dan mereka yang sampai pada tujuan.
Dan di atas segalanya, doa adalah kuncinya.
Yogyakarta, 10 November 2025
