
Ramadhan adalah madrasah tarbiyah.
Di pesantren kalian dilatih untuk disiplin dalam ibadah, tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, dan menjaga akhlak.
Namun para ulama mengatakan:
“Bukanlah keutamaan hanya melakukan ketaatan, tetapi yang lebih utama adalah istiqamah di atasnya.”
Maka ujian sebenarnya dimulai ketika kalian pulang ke rumah.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa itulah yang harus tetap hidup, baik di pesantren maupun di rumah.
Pulanglah dengan niat ibadah.
Berbaktilah kepada orang tua, karena:
“Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Jadilah santri yang menghadirkan keberkahan di rumah dengan menghidupkan shalat berjamaah, membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, menjadi teladan dalam akhlak.
Ingatlah kisah Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang suatu malam berdiri sepanjang malam sambil memegang segelas air karena ibunya tertidur setelah memintanya air minum. Ia tidak ingin membangunkan ibunya.
Begitulah para ulama memuliakan orang tua mereka.
Santri sejati bukan hanya yang rajin di pesantren, tetapi yang tetap menjaga ibadah ketika tidak ada yang mengawasi.
Karena Allah berfirman:
“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihatnya?” (QS. Al-‘Alaq: 14)
Wahai para santri,
Kalian pulang bukan hanya membawa pakaian dan buku.
Kalian pulang membawa ilmu, akhlak, dan cahaya Al-Qur’an.
Jadilah kebanggaan orang tua, teladan bagi masyarakat, dan generasi penerus perjuangan para ulama.
Karena itu ingatlah:
“Ilmu bukan sekadar banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.” (Imam Malik)
Semoga Allah menjaga langkah kalian di mana pun berada dan menjadikan kalian sebagai generasi yang saleh, berilmu, dan bermanfaat bagi umat.
Ust. Muhammad Ridlwan, Lc, M.S.I (Mudir Ma’had Al Kautsar Banjar)